Kalor
SOAL LITERASI
Soal 1 (Kontekstual: Mengapa Daratan Lebih Cepat Panas daripada Lautan)
Teks Bacaan:
Saat berkunjung ke pantai pada siang hari yang terik, Rian (17 tahun) merasakan pasir pantai yang ia pijak terasa sangat panas. Namun, ketika ia melangkah masuk ke dalam air laut, air laut terasa jauh lebih dingin. Padahal, pasir pantai dan air laut menerima pancaran sinar matahari yang sama persis. Guru fisika menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi karena pasir (tanah) memiliki kalor jenis (c) yang jauh lebih kecil dibandingkan kalor jenis air laut.
Berdasarkan teks di atas, pengaruh nilai kalor jenis (c) terhadap perubahan suhu zat adalah...
A. Semakin kecil kalor jenis suatu zat, semakin sedikit energi kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhunya, sehingga zat tersebut lebih cepat panas.
B. Semakin kecil kalor jenis suatu zat, semakin besar energi kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhunya, sehingga zat tersebut lebih lambat panas.
C. Kalor jenis tidak mempengaruhi laju perubahan suhu zat saat menerima panas dari matahari.
D. Air laut memiliki kalor jenis kecil sehingga air laut mudah berubah wujud menjadi uap secara spontan.
E. Pasir pantai menyerap kalor lebih lambat karena bentuk partikelnya berupa butiran padat.
Soal 2 (Kontekstual: Mekanisme Tubuh Berkeringat saat Berolahraga)
Teks Bacaan:
Setelah berlari mengelilingi lapangan sekolah, tubuh Siti terasa panas dan mengeluarkan banyak keringat. Keringat yang keluar di permukaan kulit secara perlahan menguap ke udara. Proses penguapan keringat ini sebenarnya merupakan mekanisme alami tubuh untuk mendinginkan diri. Agar air keringat dapat berubah wujud menjadi uap air, keringat membutuhkan energi kalor yang ditarik/diserap langsung dari permukaan kulit tubuh Siti.
Bagaimana proses penguapan keringat dapat membantu mendinginkan suhu tubuh Siti setelah berolahraga?
A. Penguapan keringat menambah jumlah kalor di dalam jaringan otot tubuh.
B. Keringat yang menguap mengambil energi kalor dari kulit, sehingga suhu permukaan kulit menurun.
C. Keringat menyumbat pori-pori kulit agar udara panas luar tidak masuk ke dalam tubuh.
D. Penguapan keringat mengubah energi kalor tubuh menjadi energi kinetik otot secara instan.
E. Keringat menetralisir suhu darah melalui reaksi kimia pemisahan muatan listrik.
Soal 3 (Kontekstual: Beda Suhu Pegangan Panci berbahan Plastik vs. Logam)
Teks Bacaan:
Di dalam dapur, Budi memperhatikan bahwa bagian wadah utama panci terbuat dari bahan aluminium atau stenlis, sedangkan bagian pegangan/gagang panci selalu dilapisi bahan ebonit (plastik tebal) atau kayu. Ketika panci digunakan untuk memasak air hingga mendidih, wadah aluminium menjadi sangat panas sehingga dapat mematangkan makanan, sementara bagian pegangan ebonit tetap aman dan tidak menyengat saat dipegang tangan tanpa alas.
Berdasarkan konsep kemampuan menghantar kalor (konduktivitas termal), sifat dari bahan aluminium dan ebonit secara berurutan adalah...
A. Aluminium bersifat isolator kalor, sedangkan ebonit bersifat konduktor kalor.
B. Aluminium bersifat konduktor kalor yang baik, sedangkan ebonit bersifat isolator kalor.
C. Kedua bahan merupakan konduktor kalor yang sama kuatnya.
D. Kedua bahan merupakan isolator kalor yang mencegah aliran energi panas.
E. Aluminium menyerap kalor tanpa menyalurkannya, sedangkan ebonit memantulkan kalor ke udara.
SOAL NUMERASI
Soal 4 (Kontekstual: Menghitung Kalor Pemanasan Air dalam Ketel)
Tono memanaskan m = 500 gram air (0,5 kg) di dalam ketel dari suhu awal T1 = 25 derajat C hingga mencapai suhu T2 = 85 derajat C (perubahan suhu Delta T = 60 derajat C). Diketahui kalor jenis air adalah c = 4.200 J/kg. derajat C.
(Rumus kalor pemanasan: Q = m . c . Delta T)
Berapakah besar energi kalor (Q) yang diserap oleh air tersebut?
A. 21.000 Joule
B. 63.000 Joule
C. 126.000 Joule
D. 178.500 Joule
E. 210.000 Joule
Soal 5 (Kontekstual: Menghitung Kapasitas Kalor Wajan Masak)
Sebuah wajan berbahan besi memiliki massa m = 2 kg dan kalor jenis besi c = 450 J/kg. derajat C. Wajan tersebut digunakan untuk menumis masakan di dapur.
(Rumus kapasitas kalor: C = m . c)
Berapakah besar kapasitas kalor (C) dari wajan besi tersebut?
A. 225 J. derajat C
B. 450 J. derajat C
C. 900 J. derajat C
D. 1.800 J. derajat C
E. 2.700 J. derajat C
Soal 6 (Kontekstual: Menghitung Kalor Pencairan Es Batu)
Untuk membuat es sirup, sebuah es batu bermassa m = 250 gram (0,25 kg) yang bersuhu 0 derajat C hendak dicairkan seluruhnya menjadi air pada suhu 0 derajat C. Diketahui kalor lebur es adalah L = 336.000 J/kg.
(Rumus kalor lebur perubahan wujud: Q = m . L)
Berapakah total kalor (Q) yang dibutuhkan untuk mencairkan es batu tersebut?
A. 42.000 Joule
B. 84.000 Joule
C. 126.000 Joule
D. 168.000 Joule
E. 336.000 Joule
Tuliskan jawabanmu di kolom komentar website ini ya?

Posting Komentar
0 Komentar